Beda karakter orang miskin Dan kaya

Saya mendapat kiriman article dare searing reman. Apabila penulis asli merasa keberatan, tolong beri tahu saya.

Perbedaan 6 Kebiasaan Orang Kaya dan Orang Miskin

Secara alami apa yang terjadi didunia ini mengikuti hukum alam, yaitu sebab akibat. Kecuali jika ada penetrasi dari luar maka hukum tersebut tidak berlaku. Namun anda harus secara terus menerus memberikan pengaruh dari luar tersebut tanpa henti. Begitu pengaruh dari luar dihilangkan, maka akan kembali mengikuti hukum alam.
Begitu pula manusia juga tunduk terhadap hukum alam. Maka apa yang kita tabur, itulah yang akan kita petik. Apa yang kita lakukan itulah yang akan diterima.

Dengan mengikuti hukum tersebut, kita dapat mempelajari , kenapa seseorang menjadi kaya, sementara yang lain miskin. Setelah diamati ternyata ada perbedaan perilaku atau kebiasaan yang menyolok antara orang kaya dan orang miskin. Dan kebiasaan-kebiasaan itulah yang menyebabkan seseoarng menjadi kaya. Dengan demikan jika anda melakukan kebiasaan-kebiasan tersebut maka anda berada pada jalur yang benar menuju keberlimpahan harta.

Setidaknya ada 6 kebiasaan yang dilakukan oleh orang kaya yang tidak dilakukan oleh orang miskin, yaitu

1. Menunda kenikmatan,

Orang kaya mampu menunda menikmati apa yang mereka peroleh untuk mendapatkan yang lebih besar. Kita sering mendengar bagaimana perjuagan orang non pribumi sehingga mereka mampu menguasai perekonomian kita. Ketika mereka masih dibawah mereka cukup makan bubur seadanya walaupun sebenarnya mereka mampu untuk makan yang lebih mewah. Mereka juga rela hidup dirumah yang sempit, meskipun mereka mampu tinggal dirumah yang lebih besar. Ini semua mereka lakukan karena mereka ingin membangun atau mengembangkan pendapatan yang lebih besar lagi. Mereka ingin menjadi kaya bukan kelihatan kaya.Nanti pada saatnya, baru mereka menikmati apa yang diusahakan selama ini.
Kebiasaan ini berbeda dengan orang pribumi yang kebanyakan miskin. Orang pribumi jika memperoleh penghasilan, bingung ingin segera membelanjakannya. Membeli baju baru, membeli TV yang lebih besar, membeli kendaraan dan lain sebagainya yang sifatnya konsumtip.
Ini semua mereka lakukan karena mereka ingin segera menikmati apa yang diusahakannya. Atau mereka ingin segera dipandang sebagai orang yang berhasil atau kaya. Namun pada akhirnya kehidupan mereka bukannya terus membaik tetapi sebaliknya justru malah menurun atau mandek. Karena mereka tidak berusaha membangun atau mengembangkan pendapatan dari hasil yang mereka peroleh. Tetapi hasil yang diperoleh habis untuk belanja barang konsumtip untuk memenuhi keiinginannya biar kelihatan kaya.

2. Kerja keras
Orang kaya sanggup dan mampu bekerja keras, karena mereka paham akan hukum alam. Siapa yang menabur akan menuai. Siapa yang menabur banyak akan menuai banyak. Dengan demikian siapa yang kerja keras akan mendapatkan hasil yang banyak.
Sementara orang miskin berpikir sebaliknya. Mereka inginnya kerja sedikit tetapi menedapatkan hasil yang besar. Mereka tidak mau diserahi tanggung jawab yang besar, tetapi mereka ingin gajinya terus naik. Meskipun mereka kerja banting tulang memeras keringat, karena mereka kerja kasar, seperti buruh bangunan atau buruh pabrik, mereka bukan kerja keras, namun sebenarnya mereka adalah pemalas. Mereka malas berpikir, malas mengembangkan kariernya dan malas menerima tanggungjawab yang lebih besar. Akhirnya mereka menerima kariernya mandek. Jika ada orang mempertanyakan tentang sikapnya itu mereka menyalahkan pihak lain.

3. Hemat

Orang kaya itu hemat, sementara orang miskin itu boros. Kelihatanya pernyataan kurang tepat. Namun begitulah kebenarannya. Orang dikatakn boros apabila sebagain besar atau seluruh penghasilannya habis dibelanjakan. Jika seseorang mempunyai penghasilan Rp. 1000.000,;perbulan dan semuanya habis dibelanjakan maka dia itu dikatakan boros. Sebaliknya jika seseorang mempunyai penghasilan 10 milyar perbulan lalu mereka membeli BMW seharga 1,5 Milyar, dia tidak dikatakan boros. Walaupun yang dibelanjakan nilainya besar namun pendapatannya jauh lebih besar.
Orang kaya dalam membelanjakan uangnya, selalu dikaitkan dengan segi manfaat dan keuntungan. Semantara orang miskin mementingkan gengsi.

4. Tidak mudah merasa puas.

Ada perbedaan antara merasa puas dan bersyukur. Merasa puas terkesan akan mandek dan tidak mau berusaha lagi. Sementara bersyukur, terkesan menerima hasil yang diperoleh dengan senang hati, namun tetap berusaha , bekerja dan berjuang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar lagi.
Kadang pemahaman kita salah, orang kaya itu rakus dan serakah dan orang miskin itu menerima dan mengalah. Apa benar demikian?

5. Menghargai uang sekecil apapun.
Sepintas kebiasaan yang kelima ini sama dengan hemat atau kebiasaan ketiga. Tetapi sebenarnya berbeda. Perbedaannya adalah hemat berkaitan dengan pengeluaran uang sedangkan menghargai uang sekecil apapun, berkaiatan dengan pendapatan.
Orang miskin perpendapat buat apa uang satu rupiah atau dua rupiah, bikin capek saja. Namun orang kaya berpendapat, jika uang seperak dikalikan 1 juta maka akan jadi besar. Atau uang Rp 9999 tidak dikatakan Rp 10.000, walau kurang 1 rupiah saja.

6. Tidak malu, kerja apapun akan dikerjakan tidak pilih-pilih
Orang kaya tidak mengenal malu mengerjakan sesuatu jika itu baik, halal dan mengahasilkan. Namun orang miskin, pilih-pilh dan mengutamakan gengsi. Karena itu kebanyakan orang miskin itu bekerja. Mereka pikir bekerja itu lebih terhormat apalagi jika memiliki jabatan. Saya mempunyai teman seorang mantan direktur suatu perusahaan. Karena perusahaannya bangkrut maka terkena PHK. Karena usianya sudah cukup berumur maka dia mengalami kesulitan mencari kerja ditempat lain. Akhirnya memutuskan untuk usaha sendiri. Walaupun usahanya cukup lumayan, tetapi dia tidak merasa puas, apalagi jika ditanya anaknya. “ Bapak ini kerja apa sih dan jabatanya apasih. Kok dirumah terus.” Hatinya terasa teriris-iris.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Gua Butuh Uang

 Saya sering mendengar ungkapan “Saya butuh uang”. Di jaman modern, kalau kita mengirim SMS ke sesama  orang percaya, sering di akhir dari SMS ditambah huruf GBU. Ada yang bilang GBU adalah singkatan dari Gua Butuh Uang.

Saya pernah mendengar seseorang yang mengeluh karena kekuarangan uang. Seseorang memberi nasehat agar orang tersebut memberi lebih lagi, sehingga bisa menuai lebih banyak. Ini adalah sesuatu yang dulu saya percaya, dan juga dipercayai begitu banyak saudara dan saudari kita. Kita banyak diajar mengenai seorang wanita miskin yang memberi uang yang sedikit yang kemudian dipuji Yesus. Namun apakah benar bahwa kita perlu memberi untuk mendapatkan kecukupan kehidupan ini? Apakah iman pada “menabur” berdasarkan kebenaran?
Kita sering mengumpamakan hubungan kita dengan Tuhan seperti hubungan seorang ayah dengan anaknya. Seorang ayah yang baik, akan memberi anaknya makan pada waktu jam makan. Tidap peduli si anak telah nakal, menjengkelkan, atau tidak patuh, ayah yang normal akan tetap menyediakan makan bagi anaknya. Si anak tidak perlu memberikan sebagian dari makan siangnya pada orang miskin didepan rumahnya, Ayahnya akan tetap memberinya makan malam.
Mat 6:25, 26  ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
 
Cara Tuhan mencukupi kita tidak dengan cara menabur dan menuai.  Ini adalah firman Tuhan. Sama sekali tidak tergantung pada kinerja kita atau apa yang telah kita perbuat. Tuhan mencukupi kita karena kasih setia dan anugerahNya, karena dia mengasihi kita. Pertanyaannya adalah, mengapa banyak orang Kristen hidupnya tidak dicukupi Dia. “Saya sudah menabur, saya sudah memberi, saya sudah perpuluhan, tetapi hidup saya tidak cukup”. Kuncinya adalah karena banyak dari kita yang memiliki iman yang keliru. Beriman bahwa dengan memberi, Tuhan akan mencukupi kebutuhannya. Iman yang keliru tidak akan membuat janjiNya menjadi kenyataan. Yang akan membuat janjiNya dimanifestasikan adalah Iman pada kebenaran.
Apabila kita (tentunya) ingin dicukupi Tuhan maka yang perlu kita lakukan adalah percaya, percaya saja pada Matius 6:25,26. Begitu kita mulai mengupayakan kecukupan dengan percaya pada sesuatu yang lain, seperti merasa harus memberi untuk dicukupi, maka kita sudah jatuh dari kehidupan dalam anugerahNya yang sempurna. Kita perlu memiliki iman seperti burung dilangit.
Roma 4:14If it is the adherents of the Law who are to be the heirs, then faith is made futile and empty of all meaning and the promise [of God] is made void (is annulled and has no power). Amplified Bible
 
Saya terjemahkan dengan bebas, Roma 4:14 ketika kita mengikuti Hukum agar menjadi pewaris, maka Iman kita menjadi gagal dan kosong sehingga janji Allah tidak berlaku lagi, dibatalkan, dan tidak memiliki kuasa.
Sungguh mengerikan. Begitu kita mencoba melakukan Hukum Allah untuk mendapatkan apa yang dijanjikan, kita segera jatuh dari hukum kasih karunia ke hukum taurat, dan menyebabkan segala janji Allah dibatalkan. Mengapa kita mau melangkah mundur kembali ke hukum taurat? Mari kita kembali ke anugerahNya, dan menikmati kasih karuniaNya.
Ditulis pada Uncategorized | 2 Komentar

Jalan menuju apa yang anda inginkan

Lanjut membaca

Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar